Selasa, 30 April 2013

pengaruh latihan rentang gerak sendi aktif terhadap mobilisasi pada pasien osteomalasia

BAB I
PENDAHULUAN

      A.    Latar Belakang Masalah
Salah satu mineral utama penyusun tulang adalah kalsium. Kurangnya konsumsi kalsium akan mengakibatkan berkurangnya kalsium yang terdapat pada tulang, sehingga semakin lama  akan terjadi perubahan pada struktur tulang. Akibatnya tulang menjadi kehilangan kepadatan dan kekuatannya, sehingga mudah retak atau patah.
Osteomalasia adalah perubahan patologik berupa hilangnya mineralisasi tulang yang disebabkan berkurangnya kadar kalsium fosfat sampai tingkat di bawah kadar yang diperlukan untuk mineralisasi matriks tulang normal, hasil akhirnya ialah rasio antara mineral tulang dengan matriks tulang berkurang.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan osteomalasia . Kekurangan kalsium dan vitamin D terutama di masa kecil dan remaja saat di mana terjadi pembentukan massa tulang yang maksimal, merupakan penyebab utama osteomalasia Konsumsi kalsium yang rendah atau menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium yang umumnya terjadi pada dewasa , dapat menyebabkan osteomalasia ,selain itu ganguan pada sindroma malabsorbsi usus ,penyakit hati ,gagal ginjal kronis dapat juga menyebab terjadinya osteomalasia. Terjadinya osteomalasia merupakan rangkaian awal terjadinya osteoporosis .pada saat sekarang ini angka kejadian tersebut sangat meningkat tajam baik pada anak – anak ,dewasa atau pun orang tua.
Berdasarkan hasil penelitian University of Otago, Selandia Baru, bekerja sama dengan Seameo Tropmed RCCN, Universitas Indonesia dan Universitas Putra Malaysia, yang dipublikasikan European Journal of Clinical Nutrition tahun 2007, perempuan Indonesia hanya mengonsumsi 270 miligram kalsium per hari.
Hal tersebut berarti asupan perempuan Indonesia bahkan kurang dari 50% rekomendasi kalsium harian yang dibutuhkan untuk menjaga kekuatan dan kesehatan tulang. Asupan yang kurang dari 50% rekomendasi harian tersebut bahkan juga terjadi di 9 negara Asia, seperti terlihat pada penelitian yang dilakukan Lyengar dan tim pada 2004. Kebutuhan kalsium yang dianjurkan per harinya adalah 1.000-1.200 mg.
Data kepadatan tulang yang dianalisa oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Gizi Bogor pada 2005, ditemukan bahwa 2 dari 5 orang Indonesia berisiko menderita kerapuhan tulang

B.     Rumusan Masalah
Masih banyaknya pasien yang tidak mau bergerak sendiri pada pasien osteomalasia karena takut nyeri. Jika hal ini tidak segera ditanggulangi akan menimbulkan perlengketan jaringan otot sehingga terjadi fibrotik dan menyebabkan penurunan lingkup gerak sendi (LGS), pasien akan mengalami keterbatasan gerak yang dapat memperpanjang hari perawatan pasien di rumah sakit. Maka rumusan masalah adalah:
1.    Bagaimana Latihan ROM aktif?
2.    Bagaimana peningkatan mobilisasi pada penderita osteomalasia?
3.    Apakah ada pengaruh latihan rentang gerak sendi aktif terhadap mobilisasi pada pasien osteomalasia?

C.    Tujuan Penelitian
  1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh  latihan rentang gerak sendi terhadap mobilisasi pada pasien osteomalasia.

2.    Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui distribusi fekuensi mobilisasi pasien osteomalasia sesudah dilakukan rentang gerak sendi
b. Untuk mengetahui pengaruh latihan rentang gerak sendi terhadap mobilisasi pada pasien osteomalasia.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.        Konsep Dasar ROM (Range of Motion)
1.      Pengertian
Latihan rentang gerak dapat aktif (klien menggerakan semua sendinya dengan rentang gerak tanpa bantuan), aktif (klien tidak dapat menggerakan setiap sendi dengan rentang gerak), atau berada di antaranya. Rencana keperawatan harus meliputi menggerakan ekstremitas klien dengan rentang gerak penuh. Latihan rentang gerak pasif harus dimulai segera pada kemampuan klien menggerakan ekstremitas atau sendi menghilang. Pergerakan dilakukan dengan perlahan dan lembut dan tidak menyebabkan nyeri. Perawat jangan memaksakan sendi melebihi kemampuannya. Setiap gerakan harus diulang 5 kali setiap bagian. (Perry & Potter, 2005)
Range of Motion (ROM) adalah gerakan yang dalam keadaan normal dapat dilakukan oleh sendi yang bersangkutan. (Suratun, 2008)
Latihan ROM pasif adalah latihan ROM yang di lakukan pasien dengan bantuan perawat setiap-setiap gerakan. Indikasi latihan fasif adalah pasien semikoma dan tidak sadar, pasien dengan keterbatasan mobilisasi tidak mampu melakukan beberapa atau semua latihan rentang gerak dengan mandiri, pasien tirah baring total atau pasien dengan paralisis ekstermitas total (suratun, dkk, 2008). Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien. Latihan ROM aktif adalah Perawat memberikan motivasi, dan membimbing klien dalam melaksanakan pergerakan sendi secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi normal. Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif

2.     Tujuan ROM
a.    Mempertahankan atau memelihara kekuatan otot.
b.    Memelihara mobilitas persendian
c.  Merangsang sirkulasi darah
d.   Mencegah kelainan bentuk
e. Mempertahankan fungsi jantung dan pernapasan

3.   Perinsip Dasar Latihan ROM
a.    ROM harus diulang sekitar 8 kali dan dikerjakan minimal 2 kali sehari.
b.    ROM di lakukan berlahan dan hati-hati sehingga tidak melelahkan pasien.
c.    Dalam merencanakan program latihan ROM, perhatikan umur pasien, diagnosa, tanda-tanda vital dan lamanya tirah baring.
d.   Bagian-bagian tubuh yang dapat di lakukan latihan ROM adalah leher, jari, lengan, siku, bahu, tumit, kaki, dan pergelangan kaki.
e.    ROM dapat di lakukan pada semua persendian atau hanya pada bagian-bagian yang di curigai mengalami proses penyakit.
f.     Melakukan ROM harus sesuai waktunya. Misalnya setelah mandi atau perawatan rutin telah di lakukan.

4.    Manfaat ROM
a.    Memperbaiki tonus otot
b.    Meningkatkan mobilisasi sendi
c.    Memperbaiki toleransi otot untuk latihan
d.   Meningkatkan massa otot
e.    Mengurangi kehilangan tulang

5. Indikasi ROM
1.  Stroke atau penurunan tingkat kesadaran
2.  Kelemahan otot
3.  Fase rehabilitasi fisik
4.  Klien dengan tirah baring lama

6.   Kontra Indikasi
1Trombus/emboli dan keradangan pada pembuluh darah
2.  Kelainan sendi atau tulang
3.  Klien fase imobilisasi karena kasus penyakit (jantung)
4.  Trauma baru dengan kemunginan ada fraktur yang tersembunyi atau luka dalam
5.  Nyeri berat
6.  Sendi kaku atau tidak dapat bergerak

7.   Klasifikasi latihan ROM
Latihan ROM pasif adalah latihan ROM yang di lakukan pasien dengan bantuan perawat pada setiap-setiap gerakan. Indikasi latihan pasif adalah pasien semikoma dan tidak sadar, pasien dengan keterbatasan mobilisasi tidak mampu melakukan beberapa atau semua latihan rentang gerak dengan mandiri, pasien tirah baring total atau pasien dengan paralisis ekstermitas total (suratun, dkk, 2008). Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien. Sendi yang digerakkan pada ROM pasif adalah seluruh persendian tubuh atau hanya pada ekstremitas yang terganggu dan klien tidak mampu melaksanakannya secara mandiri.
Latihan ROM aktif adalah Perawat memberikan motivasi, dan membimbing klien dalam melaksanakan pergerakan sendi secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi normal. Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif . Sendi yang digerakkan pada ROM aktif adalah sendi di seluruh tubuh dari kepala sampai ujung jari kaki oleh klien sendri secara aktif.

B. Konsep Dasar ROM Aktif
1. Pengertian
          ROM Aktif yaitu gerakan yang dilakukan oleh seseorang (pasien) dengan menggunakan energi sendiri. Perawat memberikan motivasi, dan membimbing klien dalam melaksanakan pergerakan sendiri secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi normal (klien aktif). Kekuatan otot 75 %.
          Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif. Sendi yang digerakkan pada ROM aktif adalah sendi di seluruh tubuh dari kepala sampai ujung jari kaki oleh klien sendri secara aktif.


2. Indikasi ROM Aktif
a.    Pada saat pasien dapat melakukan kontraksi otot secara aktif dan menggerakkan ruas sendinya baik dengan bantuan atau tidak.
b.    Pada saat pasien memiliki kelemahan otot dan tidak dapat menggerakkan persendian sepenuhnya, digunakan A-AROM (Active-Assistive ROM, adalah jenis ROM Aktif yang mana bantuan diberikan melalui gaya dari luar apakah secara manual atau mekanik, karena otot penggerak primer memerlukan bantuan untuk menyelesaikan gerakan).
c.    ROM Aktif dapat digunakan untuk program latihan aerobik.
d.   ROM Aktif digunakan untuk memelihara mobilisasi ruas diatas dan dibawah daerah yang tidak dapat bergerak.

3. Sasaran ROM aktif
a.    Apabila tidak terdapat inflamasi dan kontraindikasi, sasaran ROM Aktif serupa dengan ROM Pasif.
b.    Keuntungan fisiologis dari kontraksi otot aktif dan pembelajaran gerak dari kontrol gerak volunter.
c.    Sasaranspesifik:
1.    Memelihara elastisitas dan kontraktilitas fisiologis dari otot yang terlibat
2.    Memberikan umpan balik sensoris dari otot yang berkontraksi
3.    Memberikan rangsangan untuk tulang dan integritas jaringan persendian
4.    Meningkatkan sirkulasi
5.    Mengembangkan koordinasi dan keterampilan motorik

4. Keterbatasan dalam Latihan ROM Aktif
a.         Untuk otot yang sudah kuat tidak akan memelihara atau meningkatkan kekuatan.
b.        Tidak akan mengembangkan keterampilan atau koordinasi kecuali dengan menggunakan pola gerakan.

5. Gerakan ROM Berdasarkan Bagian Tubuh
Menurut Potter & Perry, (2005), ROM terdiri dari gerakan pada persendian sebagai berikut:
1.      Leher, Spina, Serfikal
Gerakan
Penjelasan
Rentang
Fleksi
Menggerakan dagu menempel ke dada,
rentang 45°
Ekstensi
Mengembalikan kepala ke posisi tegak,
rentang 45°
Hiperektensi
Menekuk kepala ke belakang sejauh mungkin,
rentang 40-45°
Fleksi lateral 
Memiringkan kepala sejauh mungkin sejauh mungkin kearah setiap bahu,  
rentang 40-45°
Rotasi
Memutar kepala sejauh mungkin dalam gerakan sirkuler,
rentang 180°

2.      Bahu
Gerakan
Penjelasan
Rentang
Fleksi
Menaikan lengan dari posisi di samping tubuh ke depan ke posisi  di atas kepala,
rentang 180°
Ekstensi      
Mengembalikan lengan ke posisi di samping tubuh,
rentang 180°
Hiperektensi
Mengerkan lengan kebelakang tubuh, siku tetap lurus,
rentang 45-60°
Abduksi
Menaikan lengan ke posisi samping di atas kepala dengan telapak   tangan jauh dari kepala,
rentang 180° 
Adduksi
Menurunkan lengan ke samping dan menyilang tubuh sejauh mungkin,
rentang 320°
Rotasi dalam
Dengan siku pleksi, memutar bahu dengan menggerakan lengan sampai ibu jari menghadap ke dalam dan ke belakang,
rentang 90°
Rotasi luar
Dengan siku fleksi, menggerakan lengan sampai ibu jari ke atas dan samping kepala,
rentang 90°
Sirkumduksi
Menggerakan lengan dengan lingkaran penuh,
rentang 360°

3.      Siku
Gerakan
Penjelasan
Rentang
Fleksi
Menggerakkan siku sehingga lengan bahu bergerak ke depan sendi bahu dan tangan sejajar bahu,
rentang 150°
Ektensi
Meluruskan siku dengan menurunkan tangan,
rentang 150°

4.      Lengan bawah
Gerakan
Penjelasan
Rentang
Supinasi
Memutar lengan bawah dan tangan sehingga telapak tangan menghadap ke atas,
rentang 70-90°
Pronasi
Memutar lengan bawah sehingga telapak tangan menghadap ke bawah,
rentang 70-90°

5.      Pergelangan tangan
Gerakan
Penjelasan
Rentang
Fleksi
Menggerakan telapak tangan ke sisi bagian dalam lengan bawah,
rentang 80-90°
Ekstensi
Mengerakan jari-jari tangan sehingga jari-jari, tangan, lengan  bawah berada dalam arah yang sama,
rentang 80-90°
Hiperekstensi
Membawa permukaan tangan dorsal ke belakang sejauh mungkin,
rentang 89-90°
Abduksi
Menekuk pergelangan tangan miring ke ibu jari,
rentang 30°
Adduksi
Menekuk pergelangan tangan miring ke arah lima jari,
rentang 30-50°

6.      Jari- jari tangan
Gerakan
Penjelasan
Rentang
Fleksi
Membuat genggaman,
rentang 90°
Ekstensi
Meluruskan jari-jari tangan,
rentang 90°
Hiperekstensi
Menggerakan jari-jari tangan ke belakang sejauh mungkin,
rentang 30-60°
Abduksi
Mereggangkan jari-jari tangan yang satu dengan yang lain,
rentang 30°
Adduksi
Merapatkan kembali jari-jari tangan,
rentang 30°

7.      Ibu jari
Gerakan
Penjelasan
Rentang
Fleksi
Mengerakan ibu jari menyilang permukaan telapak tangan,
rentang 90°
Ekstensi
menggerakan ibu jari lurus menjauh dari tangan,
rentang 90°
Abduksi
Menjauhkan ibu jari ke samping,
rentang 30°
Adduksi
Mengerakan ibu jari ke depan tangan,
rentang 30°
Oposisi
Menyentuhkan ibu jari ke setiap jari-jari tangan pada tangan yang sama.
-

8.      Pinggul
Gerakan
Penjelasan
Rentang
Fleksi
Mengerakan tungkai ke depan dan atas,
rentang 90-120°
Ekstensi
Menggerakan kembali ke samping tungkai yang lain,
rentang 90-120°
Hiperekstensi
Mengerakan tungkai ke belakang tubuh,
rentang 30-50°
Abduksi
Menggerakan tungkai ke samping menjauhi tubuh,
rentang 30-50°
Adduksi
Mengerakan tungkai kembali ke posisi media dan melebihi jika mungkin,
rentang 30-50°
Rotasi dalam  
Memutar kaki dan tungkai ke arah tungkai lain,
rentang  90°
Rotasi luar    
Memutar kaki dan tungkai menjauhi tungkai lain,
rentang 90°
Sirkumduksi
Menggerakan tungkai melingkar
-

9.      Lutut
Gerakan
Penjelasan
Rentang
Fleksi
Mengerakan tumit ke arah belakang paha,
rentang 120-130°
Ekstensi
Mengembalikan tungkai kelantai,
rentang 120-130°

10.  Mata kaki
Gerakan
Penjelasan
Rentang
Dorsifleksi
Menggerakan kaki sehingga jari-jari kaki menekuk ke atas,
rentang 20-30°
Plantarfleksi
Menggerakan kaki sehingga jari-jari kaki menekuk ke bawah, 
rentang 45-50°

11.  Kaki
Gerakan
Penjelasan
Rentang
Inversi
Memutar telapak kaki ke samping dalam,
rentang 10°
Eversi
Memutar telapak kaki ke samping luar,
rentang 10°

12.  Jari-Jari Kaki
Gerakan
Penjelasan
Rentang
Fleksi
Menekukkan jari-jari kaki ke bawah,
rentang 30-60°
Ekstensi
Meluruskan jari-jari kaki,
rentang 30-60°
Abduksi
Menggerakan jari-jari kaki satu dengan yang lain,
rentang 15°
Adduksi
Merapatkan kembali bersama-sama,
rentang 15°


C.    Konsep Dasar Mobilisasi
1.  Pengertian
Mobilisasi atau kemampuan seseorang untuk bergerak bebas merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi. Immobilisasi adalah suatu keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan gerak fisik. Mobilisasi dan immobilisasi berada pada suatu rentang. Immobilisasi dapat berbentuk tirah baring yang bertujuan mengurangi aktivitas fisik dan kebutuhan oksigen tubuh, mengurangi nyeri, dan untuk mengembalikan kekuatan. Individu normal yang mengalami tirah baring akan kehilangan kekuatan otot rata-rata 3% sehari (atropi disuse). Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem otot, skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. (Perry & Potter, 2005)

2.   Tujuan Mobilisasi
Tujuan mobilisasi adalah memenuhi kebutuhan dasar (termasuk melakukan aktifitas hidup sehari-hari dan aktifitas rekreasi), mempertahankan diri (melindungi diri dari trauma), mempertahankan konsep diri, mengekspresikan emosi dengan gerakan tangan non verbal. (Perry & Potter, 2005)

3. Faktor yang mempengaruhi mobilisasi:
a.    Sistem neuromuscular
b.    Gaya hidup
c.    Ketidakmampuan
d.  Tingkat energi
e.    Tingkat perkembangan
1)   Bayi: sistem muskuloskeletal bayi bersifat fleksibel. Ekstremitas lentur dan persendian memiliki ROM lengkap. Posturnya kaku karena kepala dan tubuh bagian atas dibawa ke depan dan tidak seimbang sehingga mudah terjatuh.
2)   Batita: kekakuan postur tampak berkurang, garis pada tulang belakang servikal dan lumbal lebih nyata.
3)   Balita dan anak sekolah: tulang-tulang panjang pada lengan dan tungkai tumbuh. Otot, ligamen, dan tendon menjadi lebih kuat, berakibat pada perkembangan postur dan peningkatan kekuatan otot. Koordinasi yang lebih baik memungkinkan anak melakukan tugas-tugas yang membutuhkan keterampilan motorik yang baik.
4)   Remaja: remaja putri biasanya tumbuh dan berkembang lebih dulu dibanding yang laki-laki. Pinggul membesar, lemak disimpan di lengan atas, paha, dan bokong. Perubahan laki-laki pada bentuk biasanya menghasilkan pertumbuhan tulang panjang dan meningkatnya massa otot. Tungkai menjadi lebih panjang dan pinggul menjadi lebih sempit. Perkembangan otot meningkat di dada, lengan, bahu, dan tungkai atas.
5)   Dewasa: postur dan kesegarisan tubuh lebih baik. Perubahan normal pada tubuh dan kesegarisan tubuh pada orang dewasa terjadi terutama pada wanita hamil. Perubahan ini akibat dari respon adaptif tubuh terhadap penambahan berat dan pertumbuhan fetus. Pusat gravitasi berpindah ke bagian depan. Wanita hamil bersandar ke belakang dan agak berpunggung lengkung. Dia biasanya mengeluh sakit punggung.
6)   Lansia: kehilangan progresif pada Massa tulang total terjadi pada orangtua.

4.  Respon dari perubahan mobilisasi,
a.  Respon fisiologis
1)   Muskuloskeletal seperti kehilangan daya tahan, penurunan Massa otot, atropi dan abnormalnya sendi (kontraktur) dan gangguan metabolisme kalsium.
2)   Kardiovaskuler seperti hipotensi ortostatik, peningkatan beban kerja jantung, dan pembentukan thrombus.
3)   Pernafasan seperti atelektasis dan pneumonia hipostatik.
4)   Metabolisme dan nutrisi antara lain laju metabolic; metabolisme karbohidrat, lemak dan protein; ketidakseimbangan cairan dan elektrolit; ketidakseimbangan kalsium; dan gangguan pencernaan (seperti konstipasi).
5)   Eliminasi urin seperti stasis urin meningkatkan risiko infeksi saluran perkemihan dan batu ginjal.
6)   Integumen seperti ulkus dekubitus adalah akibat iskhemia dan anoksia jaringan.
7)   Neurosensori: sensori deprivation

b. Respon psikososial dari antara lain meningkatkan respon emosional, intelektual, sensori, dan sosiokultural.Perubahan emosional yang paling umum adalah depresi, perubahan perilaku, perubahan dalam siklus tidur-bangun, dan gangguan koping.

E.   Konsep Dasar Osteomalasia
1. Pengertian Osteomalasia
Osteomalasia adalah penyakit metabolisme tulang yang dikarakteristikkan oleh kurangnya mineral dari tulang (menyerupai penyakit yang menyerang anak-anak yang disebut rickets) pada orang dewasa, osteomalasia berlangsung kronis dan terjadi deformitas skeletal, terjadi tidak separah dengan yang menyerang anak-anak karena pada orang dewasa pertumbuhan tulang sudah lengkap (komplit). (Smeltzer. 2001: 2339)
Osteomalasia adalah penyakit pada orang dewasa yang ditandai oleh gagalnya pendepositan kalsium kedalam tulang yang baru tumbuh. Istilah lain dari osteomalasia adalah”soft bone” atau tulang lunak. Penyakit ini mirip dengan rakitis, hanya saja pada penyakit ini tidak ditemukan kelainan pada lempeng epifisis (tempat pertumbuhan tulang pada anak) karena pada orang dewasa sudah tidak lagi dijumpai lempeng epifisis
Osteomalasia ialah perubahan patologik berupa hilangnya mineralisasi tulang yang disebabkan berkurangnya kadar kalsium fosfat sampai tingkat di bawah kadar yang diperlukan untuk mineralisasi matriks tulang normal, hasil akhirnya ialah rasio antara mineral tulang dengan matriks tulang berkurang.
Osteomalasia adalah penyakit metabolisme tulang yang ditandai dengan tidak memadainya mineralisasi tulang. Pada orang dewasa, osteomalasia bersifat kronis dan deformitas skeletalnya tidak seberat pada anak karena pertumbuhan skeletal telah selesai.pada pasien ini, sejumlah besar osteosid atau remodelling tulang baru tidak mengalami kalsifikasi. (Suratun,Heriyati,Santa manurung,Een raenah. 2008)

2. Etiologi Osteomalasia
Penyebabnya ditandai dengan keadaan kekurangan vitamin D (calcitrol), dimana terjadi peningkatan absorbsi kalsium dari sistem pencernaan dan penyediaan mineral dari tulang. penyediaan calsium dan phosfat dalam cairan eksta seluler lambat. Tanpa adekuatnya vitamin D, kalsium dan fosfat tidak akan terjadi di tempat pembentukan kalsium dalam tulang.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan mengalami osteomalasia yang menyerang pada anak yaitu:
a.         Anak kekurangan kalsium dan vitamin D. Anak yang kekurangan kalsium akan mengalami gangguan pada proses mineralisasi. Demikian juga apabila ia kekurangan vitamin D. Di dalam tubuh vitamin D berfungsi membantu penyerapan kalsium di dalam tubuh. Jika kedua unsur ini tidak terpenuhi makan tulang-tulang si kecil menjadi lunak dan mudah patah. Proses mineralisasi adalah proses proses terakhir pembentukan tulang. Jika kebutuhan kalsium anak tercukupi maka otomatis proses mineralisasi dalam tubuhnya akan berlangsung dengan baik.
b.         Anak menderita gangguan hati seperti sirosis. Hal ini karena organ hatinya tak mampu memroses vitamin D sehingga fase mineralisasi tidak terjadi.
c.         Adanya gangguan fungsi ginjal sehingga proses ekskresi/pembuangan kalsium akan meningkat. Dengan begitu proses mineralisasi akan terhambat.
d.        Pemakaian obat dalam jangka waktu panjang. Pada kasus tertentu, efek pemakaian obat seperti streroid dalam jangka waktu yang panjang rentan terhadap penyakit ini.

Penyebab utama osteomalasia yang terjadi setelah masa anak-anak ialah :
a.         Menurunnya penyerapan vitamin D akibat penyakit bilier, penyakit mukosa usus halus proksimal dan penyakit ileum.
b.         Peningkatan katabolisme vitamin D akibat obat yang me- nyebabkan peningkatan kerja enzim-enzim oksidase hati.
c.         Gangguan tubulus renalis yang disertai terbuangnya fosfat (acquired), renal tubular acidosis yang disertai disproteinemia kronik


3. Manifestasi klinik
a.    Nyeri tulang
b.    Deformitas mungkin timbul pada punggung dan panggul, tungkai, iga, dan adanya daerah-daerah dimana terdapat pseudofraktur
c.    Kelemahan otot bila kalsium serum sangat rendah, tetapi mungkin jarang terjadi
Umumnya gejala yang memperberat dari osteomalasia adalah nyeri tulang dan kelemahan. Sebagai akibat dari defisiensi kalsium, biasanya terdapat kelemahan otot, pasien kemudian nampak terhuyung-huyung atau cara berjalan loyo/lemah. Kemajuan penyakit, kaki terjadi bengkok (karena tinggi badan dan kerapuhan tulang), vertebra menjadi tertekan, pemendekan batang tubuh pasien dan kelainan bentuk thoraks (kifosis).

4. Patofisiologi
Ada berbagai macam penyebab dari osteomalasia yang umumnya menyebabkan gangguan metabolisme mineral. Faktor yang berbahaya untuk perkembangan osteomalasia diantaranya kesalahan diet, malabsorbsi, gastrectomy, gagal ginjal kronik, terapi anticonvulsan jangka lama (phenyton, phenobarbital) dan insufisiensi vitamin D (diet, sinar matahari). Tipe malnutrisi (defisiensi vitamin D sering digolongkan dalam hal kekurangan calsium) terutama gangguan fungsi menuju kerusakan, tetapi faktor makanan dan kurangnya pengetahuan tentang nutrisi yang juga dapat menjadi faktor pencetus hal itu terjadi dengan frekuensi tersering dimana kandungan vitamin D dalam makanan kurang dan adanya kesalahan diet serta kurangnya sinar matahari.
Osteomalasia kemungkinan terjadi sebagai akibat dari kegagalan dari absorbsi calsium atau kekurangan calsium dari tubuh. Gangguan gastrointestinal dimana kurangnya absorbsi lemak menyebabkan osteomalasia. Kekurangan lain selain vitamin D (semua vitamin yang larut dalam lemak) dan kalsium. Ekskresi yang paling terakhir terdapat dalam faeces bercampur dengan asam lemak (fatty acid). Sebagai contoh dapat terjadi gangguan diantaranya celiac disease, obstruksi sistem pencernaan kronik, pankreatitis kronis dan reseksi perut yang kecil. Lagi pula penyakit hati dan ginjal dapat menyebabkan kekurangan vitamin D, karenanya organ-organ tersebut mengubah vitamin D ke dalam untuk aktif. Terakhir, hyperparatiroid menunjang terjadinya kekurangan pembentukan calsium, dengan demikian osteomalasia menyebabkan kenaikan ekskresi fosfat dalam urine.
Umumnya gejala yang memperberat dari osteomalasia adalah :
a.       Nyeri tulang dan kelemahan.
b.      Sebagai akibat dari defisiensi kalsium, biasanya terdapat kelemahan otot,
c.       Pasien kemudian nampak terhuyung-huyung atau cara berjalan loyo/lemah..
d.      Nyeri tulang yang dirasakan menyebar, terutama pada daerah pinggang dan paha
e.       Kaki terjadi bengkok (karena tinggi badan dan kerapuhan tulang),
f.       Vertebra menjadi tertekan,
g.      Pemendekan batang tubuh pasien dan kelainan bentuk thoraks (kifosis).
h.      Penurunan berat badan
i.        Anoreksia

Pada anak – anak
a.       Munculnya tonjolan tulang pada sambungan antara tulang iga dan tulang rawan di bagian dada.
b.      Tulang terasa lunak dan jika disenduh akan merasakan nyeri mengigit
c.       Sakit pada seluruh tulang tubuhnya
d.      Mengalami gangguan motorik karena kurang beraktivitas dan menjadi pasif.
e.      Merasakan sakit saat duduk & mengalami kesulitan bangun dari posisi duduk ke posisi berdiri.  
f. Mudah Sekali mengalami patah tulang. Terutama di bagian tulang panjang seperti tulang lengan atau tulang kaki.

5. Prognosis
Kekurangan kalsium dan vitamin D terutama di masa kecil dan remaja saat di mana terjadi pembentukan massa tulang yang maksimal, merupakan penyebab utama osteomalasia Konsumsi kalsium yang rendah atau menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium yang umumnya terjadi pada dewasa , dapat menyebabkan osteomalasia ,selain itu ganguan pada sindroma malabsorbsi usus ,penyakit hati ,gagal ginjal kronis dapat juga menyebab terjadinya osteomalasia Terjadinya osteomalasia merupakan rangkaian awal terjadinya osteoporosis .pada saat sekarang ini angka kejadian tersebut sangat meningkat tajam baik pada anak – anak ,dewasa atau pun orang tua. Berdasarkan hasil penelitian University of Otago, Selandia Baru, bekerja sama dengan Seameo Tropmed RCCN, Universitas Indonesia dan Universitas Putra Malaysia, yang dipublikasikan European Journal of Clinical Nutrition tahun 2007, perempuan Indonesia hanya mengonsumsi 270 miligram kalsium per hari.
Hal tersebut berarti asupan perempuan Indonesia bahkan kurang dari 50% rekomendasi kalsium harian yang dibutuhkan untuk menjaga kekuatan dan kesehatan tulang. Asupan yang kurang dari 50% rekomendasi harian tersebut bahkan juga terjadi di 9 negara Asia, seperti terlihat pada penelitian yang dilakukan Lyengar dan tim pada 2004. Kebutuhan kalsium yang dianjurkan per harinya adalah 1.000-1.200 mg. Data kepadatan tulang yang dianalisa oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Gizi Bogor pada 2005, ditemukan bahwa 2 dari 5 orang Indonesia berisiko menderita kerapuhan tulang

6. Evaluasi diagnostic
Pada foto x – ray umumnya nampak kekurangan mineral dari tulang sangat nyata. Berdasar dari vertebra mungkin menunjukkan fraktur kompressi dengan nyeri pada ujung vertebra. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan lambatnya rata-rata serum kalsium dan jumlah fosfor serta kurangnya kenaikan alkaline phosfat. Ekskresi urine calsium dan creatinin lambat.

7. Penatalaksanaan
1.    Medik
     Jika penyebabnya kekurangan vitamin D, maka dapat disuntikkan vitamin D 200.000 IU per minggu selama 4-6 minggu, yang kemudian dilanjutkan dengan 1.600 IU setiap hari atau 200.000 IU setiap 4-6 bulan. Jika terjadi kekurangan fosfat (hipofosfatemia), maka dapat diobati dengan mengonsumsi 1,25-dihydroxy vitamin D.
2.    Penatalaksanan non medik
     Jika kekurangan kalsium maka yang harus dilakukan adalah memperbanyak konsumsi unsur kalsium. Agar sel osteoblas (pembentuk tulang) bisa bekerja lebih keras lagi. Selain mengkonsumsi sayur-sayuran, buah, tahu, tempe, ikan teri, daging, yogurt. Konsumsi suplemen kalsium sangatlah disarankan.Jika kekurangan vitamin D, sangat dianjurkan untuk memperbanyak konsumsi makanan seperti ikan salmon, kuning telur, minyak ikan, dan susu. Untuk membantu pembentukan vitamin D dalam tubuh cobalah sering berjemur di bawah sinar matahari pagi antara pukul 7 - 9 pagi dan sore pada pukul 16 -¬ 17.




BAB III
Pembahasan

Pengaruh Latihan Rentang Gerak Sendi Terhadap mobilisasi pada pasien osteomalasia
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Suddarth & Brunner (2002) bahwa latihan rentang gerak sendi di lakukan untuk mengurangi efek imobilisasi pada pasien melalui latihan isometrik otot-otot di bagian yang di imobilisasi  latihan kuadrisep dan latihan gluteal dapat membantu mempertahankan kelompok otot besar yang penting untuk berjalan.
Menurut Suratun (2008) bahwa rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif sedangkan latihan ROM aktif untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif .
Berdasarkan hasil penelitian ini peneliti berpendapat bahwa ada perbedaan lingkup gerak sendi antara pasien kelompok ROM aktif dan kelompok ROM pasif. Hal ini disebabkan karena pada pasien kelompok latihan ROM aktif tidak melakukan latihan rentang gerak sendi dengan baik karena kurang motivasi dengan alasan takut nyeri sehingga menyebabkan masih terbatasnya pergerakan sendi pasien. Sedangkan pada pasien yang dilakukan rentang gerak pasif maka pasien akan diupayakan untuk bergerak (mengegerakan kaki pasien) sehingga meningkatkan aliran darah ke ektremitas. Kontraksi otot kaki bagian bawah akan meningkatkan aliran balik vena sehingga mempersulit terbentuknya bekuan darah.
Latihan ROM aktif dan pasif dapat meningkatkan mobilitas sendi, tulang dan otot. Seperi yang telah disebutkan di atas gejala yang memperberat dari osteomalasia adalah :
a.    Nyeri tulang dan kelemahan.
b.   Sebagai akibat dari defisiensi kalsium, biasanya terdapat kelemahan otot.
c.    Pasien kemudian nampak terhuyung-huyung atau cara berjalan loyo/lemah.
d.   Nyeri tulang yang dirasakan menyebar, terutama pada daerah pinggang dan paha.
e.    Kaki terjadi bengkok (karena tinggi badan dan kerapuhan tulang)
Apabila hal tersebut tidak diatasi dengan segera maka akan semakin memperburuk gejala yang ada. Melakukan latihan sederhana seperti ROM aktif maupun ROM pasif dapat meningkatkan mobilitas sendi, tulang dan otot pada penderita osteomalasia. Apabila dilakukan secara rutin dan teratur dapat mencegah terjadinya berbagai komplikasi.
Melakukan ROM aktif di bawah sinar matahari akan sangat membantu pada penderita osteomalasia. Selain untuk meningkatkan mobilitas sendi, tulang dan otot, sinar matahari juga dapat membantu dalam pembentukan Vitamin D yang sangat dibutuhkan oleh tulang.




















Daftar Pustaka

Carpenito, Lynda juall. 2001. Dokumentasi Asuhan Keperawatan Edisi 8. Jakarta: EGC.

Doenges, E, Marilyn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan keperawatan pasien. Edisi. Jakarta: EGC.

Ganong, W.F. 1999. Fisiologi kedokteran. Jakarta : EGC.

Price, Sylvia & Loiraine M. Wilson. 1998. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC.

Smeltzer & Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Vol III. Edisi 8. Jakarta : EGC.

Suratun, Heryati, Santa manurung, Een raenah. 2008. Klien gangguan sistem musculuskeletal. Jakarta: EGC.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar