BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Salah satu mineral utama penyusun
tulang adalah kalsium. Kurangnya konsumsi kalsium akan mengakibatkan
berkurangnya kalsium yang terdapat pada tulang, sehingga semakin lama akan terjadi perubahan pada struktur tulang.
Akibatnya tulang menjadi kehilangan kepadatan dan kekuatannya, sehingga mudah
retak atau patah.
Osteomalasia adalah perubahan
patologik berupa hilangnya mineralisasi tulang yang disebabkan berkurangnya
kadar kalsium fosfat sampai tingkat di bawah kadar yang diperlukan untuk
mineralisasi matriks tulang normal, hasil akhirnya ialah rasio antara mineral
tulang dengan matriks tulang berkurang.
Banyak faktor yang dapat
menyebabkan osteomalasia . Kekurangan kalsium dan vitamin D terutama di masa kecil
dan remaja saat di mana terjadi pembentukan massa tulang yang maksimal,
merupakan penyebab utama osteomalasia Konsumsi kalsium yang rendah atau
menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium yang umumnya terjadi pada
dewasa , dapat menyebabkan osteomalasia ,selain itu ganguan pada sindroma
malabsorbsi usus ,penyakit hati ,gagal ginjal kronis dapat juga menyebab
terjadinya osteomalasia. Terjadinya osteomalasia merupakan rangkaian awal
terjadinya osteoporosis .pada saat sekarang ini angka kejadian tersebut sangat
meningkat tajam baik pada anak – anak ,dewasa atau pun orang tua.
Berdasarkan hasil penelitian
University of Otago, Selandia Baru, bekerja sama dengan Seameo Tropmed RCCN,
Universitas Indonesia dan Universitas Putra Malaysia, yang dipublikasikan
European Journal of Clinical Nutrition tahun 2007, perempuan Indonesia hanya
mengonsumsi 270 miligram kalsium per hari.
Hal tersebut berarti asupan
perempuan Indonesia bahkan kurang dari 50% rekomendasi kalsium harian yang
dibutuhkan untuk menjaga kekuatan dan kesehatan tulang. Asupan yang kurang dari
50% rekomendasi harian tersebut bahkan juga terjadi di 9 negara Asia, seperti
terlihat pada penelitian yang dilakukan Lyengar dan tim pada 2004. Kebutuhan
kalsium yang dianjurkan per harinya adalah 1.000-1.200 mg.
Data kepadatan
tulang yang dianalisa oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Gizi
Bogor pada 2005, ditemukan bahwa 2 dari 5 orang Indonesia berisiko menderita
kerapuhan tulang
B.
Rumusan Masalah
Masih
banyaknya pasien yang tidak mau bergerak sendiri pada pasien osteomalasia karena
takut nyeri. Jika hal ini tidak segera ditanggulangi akan
menimbulkan perlengketan jaringan otot sehingga terjadi fibrotik dan
menyebabkan penurunan lingkup gerak sendi (LGS), pasien akan mengalami keterbatasan gerak yang dapat
memperpanjang hari perawatan pasien di rumah sakit. Maka rumusan masalah adalah:
1. Bagaimana
Latihan ROM aktif?
2. Bagaimana
peningkatan mobilisasi pada penderita osteomalasia?
3. Apakah ada pengaruh latihan
rentang gerak sendi aktif
terhadap mobilisasi pada pasien osteomalasia?
C.
Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
Untuk
mengetahui pengaruh latihan rentang gerak sendi terhadap mobilisasi pada pasien osteomalasia.
2. Tujuan
Khusus
a. Untuk mengetahui distribusi
fekuensi mobilisasi
pasien osteomalasia sesudah dilakukan rentang gerak sendi
b. Untuk mengetahui pengaruh latihan
rentang gerak sendi terhadap mobilisasi
pada pasien osteomalasia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Konsep Dasar ROM (Range of Motion)
1.
Pengertian
Latihan rentang gerak dapat aktif
(klien menggerakan semua sendinya dengan rentang gerak tanpa bantuan), aktif
(klien tidak dapat menggerakan setiap sendi dengan rentang gerak), atau berada
di antaranya. Rencana keperawatan harus meliputi menggerakan ekstremitas klien
dengan rentang gerak penuh. Latihan rentang gerak pasif harus dimulai segera
pada kemampuan klien menggerakan ekstremitas atau sendi menghilang. Pergerakan
dilakukan dengan perlahan dan lembut dan tidak menyebabkan nyeri. Perawat
jangan memaksakan sendi melebihi kemampuannya. Setiap gerakan harus diulang 5
kali setiap bagian. (Perry & Potter, 2005)
Range of Motion (ROM) adalah gerakan
yang dalam keadaan normal dapat dilakukan oleh sendi yang bersangkutan.
(Suratun, 2008)
Latihan ROM pasif adalah latihan ROM
yang di lakukan pasien dengan bantuan perawat setiap-setiap gerakan. Indikasi
latihan fasif adalah pasien semikoma dan tidak sadar, pasien dengan
keterbatasan mobilisasi tidak mampu melakukan beberapa atau semua latihan
rentang gerak dengan mandiri, pasien tirah baring total atau pasien dengan
paralisis ekstermitas total (suratun, dkk, 2008). Rentang gerak pasif ini
berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan
otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki
pasien. Latihan ROM aktif adalah Perawat memberikan motivasi, dan membimbing
klien dalam melaksanakan pergerakan sendi secara mandiri sesuai dengan rentang
gerak sendi normal. Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta
sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif
2. Tujuan ROM
a. Mempertahankan atau memelihara
kekuatan otot.
b. Memelihara mobilitas persendian
c. Merangsang
sirkulasi darah
d. Mencegah kelainan bentuk
e. Mempertahankan fungsi jantung
dan pernapasan
3. Perinsip Dasar Latihan ROM
a.
ROM harus diulang sekitar 8 kali dan
dikerjakan minimal 2 kali sehari.
b.
ROM di lakukan berlahan dan
hati-hati sehingga tidak melelahkan pasien.
c.
Dalam merencanakan program latihan
ROM, perhatikan umur pasien, diagnosa, tanda-tanda vital dan lamanya tirah
baring.
d.
Bagian-bagian tubuh yang dapat di
lakukan latihan ROM adalah leher, jari, lengan, siku, bahu, tumit, kaki, dan
pergelangan kaki.
e.
ROM dapat di lakukan pada semua
persendian atau hanya pada bagian-bagian yang di curigai mengalami proses
penyakit.
f.
Melakukan ROM harus sesuai waktunya.
Misalnya setelah mandi atau perawatan rutin telah di lakukan.
4. Manfaat ROM
a.
Memperbaiki tonus otot
b.
Meningkatkan mobilisasi sendi
c.
Memperbaiki toleransi otot untuk
latihan
d.
Meningkatkan massa otot
e.
Mengurangi kehilangan tulang
5. Indikasi ROM
1. Stroke
atau penurunan tingkat kesadaran
2.
Kelemahan otot
3. Fase
rehabilitasi fisik
4. Klien
dengan tirah baring lama
6.
Kontra Indikasi
1. Trombus/emboli
dan keradangan pada pembuluh darah
2.
Kelainan sendi atau tulang
3. Klien
fase imobilisasi karena kasus penyakit (jantung)
4. Trauma
baru dengan kemunginan ada fraktur yang tersembunyi atau luka dalam
5. Nyeri
berat
6. Sendi
kaku atau tidak dapat bergerak
7.
Klasifikasi
latihan ROM
Latihan ROM pasif adalah latihan ROM
yang di lakukan pasien dengan bantuan perawat pada setiap-setiap gerakan.
Indikasi latihan pasif adalah pasien semikoma dan tidak sadar, pasien dengan
keterbatasan mobilisasi tidak mampu melakukan beberapa atau semua latihan
rentang gerak dengan mandiri, pasien tirah baring total atau pasien dengan
paralisis ekstermitas total (suratun, dkk, 2008). Rentang gerak pasif ini
berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan
otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki
pasien. Sendi yang digerakkan pada ROM pasif adalah seluruh persendian tubuh
atau hanya pada ekstremitas yang terganggu dan klien tidak mampu
melaksanakannya secara mandiri.
Latihan
ROM aktif adalah Perawat memberikan motivasi, dan membimbing klien dalam
melaksanakan pergerakan sendi secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi
normal. Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan
cara menggunakan otot-ototnya secara aktif . Sendi yang digerakkan pada ROM
aktif adalah sendi di seluruh tubuh dari kepala sampai ujung jari kaki oleh
klien sendri secara aktif.
B. Konsep Dasar ROM Aktif
1. Pengertian
ROM Aktif yaitu
gerakan yang dilakukan oleh seseorang (pasien) dengan menggunakan energi
sendiri. Perawat memberikan motivasi, dan membimbing klien dalam melaksanakan
pergerakan sendiri secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi normal
(klien aktif). Kekuatan otot 75 %.
Hal ini
untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan
otot-ototnya secara aktif. Sendi yang digerakkan pada ROM aktif
adalah sendi di seluruh tubuh dari kepala sampai ujung jari kaki oleh klien
sendri secara aktif.
2. Indikasi ROM Aktif
a. Pada saat
pasien dapat melakukan kontraksi otot secara aktif dan menggerakkan ruas
sendinya baik dengan bantuan atau tidak.
b. Pada saat
pasien memiliki kelemahan otot dan tidak dapat menggerakkan persendian
sepenuhnya, digunakan A-AROM (Active-Assistive ROM, adalah jenis ROM Aktif yang
mana bantuan diberikan melalui gaya dari luar apakah secara manual atau
mekanik, karena otot penggerak primer memerlukan bantuan untuk menyelesaikan
gerakan).
c. ROM Aktif dapat
digunakan untuk program latihan aerobik.
d. ROM Aktif
digunakan untuk memelihara mobilisasi ruas diatas dan dibawah daerah yang tidak
dapat bergerak.
3.
Sasaran ROM aktif
a. Apabila tidak
terdapat inflamasi dan kontraindikasi, sasaran ROM Aktif serupa dengan ROM
Pasif.
b. Keuntungan
fisiologis dari kontraksi otot aktif dan pembelajaran gerak dari kontrol gerak
volunter.
c. Sasaranspesifik:
1. Memelihara
elastisitas dan kontraktilitas fisiologis dari otot yang terlibat
2. Memberikan
umpan balik sensoris dari otot yang berkontraksi
3. Memberikan
rangsangan untuk tulang dan integritas jaringan persendian
4. Meningkatkan
sirkulasi
5. Mengembangkan
koordinasi dan keterampilan motorik
4. Keterbatasan dalam Latihan ROM Aktif
a.
Untuk otot yang sudah kuat tidak akan
memelihara atau meningkatkan kekuatan.
b.
Tidak akan mengembangkan keterampilan
atau koordinasi kecuali dengan menggunakan pola gerakan.
5. Gerakan ROM Berdasarkan Bagian Tubuh
Menurut Potter & Perry, (2005), ROM terdiri dari
gerakan pada persendian
sebagai berikut:
1.
Leher, Spina,
Serfikal
|
Gerakan
|
Penjelasan
|
Rentang
|
|
Fleksi
|
Menggerakan dagu menempel ke dada,
|
rentang 45°
|
|
Ekstensi
|
Mengembalikan kepala ke posisi tegak,
|
rentang 45°
|
|
Hiperektensi
|
Menekuk kepala ke belakang sejauh mungkin,
|
rentang 40-45°
|
|
Fleksi lateral
|
Memiringkan kepala sejauh mungkin sejauh mungkin kearah
setiap bahu,
|
rentang 40-45°
|
|
Rotasi
|
Memutar kepala sejauh mungkin dalam gerakan sirkuler,
|
rentang 180°
|
2.
Bahu
|
Gerakan
|
Penjelasan
|
Rentang
|
|
Fleksi
|
Menaikan lengan dari posisi di samping tubuh ke depan
ke posisi di atas kepala,
|
rentang 180°
|
|
Ekstensi
|
Mengembalikan lengan ke posisi di samping tubuh,
|
rentang 180°
|
|
Hiperektensi
|
Mengerkan lengan kebelakang tubuh, siku tetap lurus,
|
rentang 45-60°
|
|
Abduksi
|
Menaikan lengan ke posisi samping di atas kepala dengan
telapak tangan jauh dari kepala,
|
rentang 180°
|
|
Adduksi
|
Menurunkan lengan ke samping dan menyilang tubuh sejauh
mungkin,
|
rentang 320°
|
|
Rotasi dalam
|
Dengan siku pleksi, memutar bahu dengan menggerakan
lengan sampai ibu jari menghadap ke dalam dan ke belakang,
|
rentang 90°
|
|
Rotasi luar
|
Dengan siku fleksi, menggerakan lengan sampai ibu jari
ke atas dan samping kepala,
|
rentang 90°
|
|
Sirkumduksi
|
Menggerakan lengan dengan lingkaran penuh,
|
rentang 360°
|
3.
Siku
|
Gerakan
|
Penjelasan
|
Rentang
|
|
Fleksi
|
Menggerakkan siku sehingga lengan bahu bergerak ke
depan sendi bahu dan tangan sejajar bahu,
|
rentang 150°
|
|
Ektensi
|
Meluruskan siku dengan menurunkan tangan,
|
rentang 150°
|
4.
Lengan bawah
|
Gerakan
|
Penjelasan
|
Rentang
|
|
Supinasi
|
Memutar lengan bawah dan tangan sehingga telapak tangan
menghadap ke atas,
|
rentang 70-90°
|
|
Pronasi
|
Memutar lengan bawah sehingga telapak tangan menghadap
ke bawah,
|
rentang 70-90°
|
5.
Pergelangan
tangan
|
Gerakan
|
Penjelasan
|
Rentang
|
|
Fleksi
|
Menggerakan telapak tangan ke sisi bagian dalam lengan
bawah,
|
rentang 80-90°
|
|
Ekstensi
|
Mengerakan jari-jari tangan sehingga jari-jari, tangan,
lengan bawah berada dalam arah yang
sama,
|
rentang 80-90°
|
|
Hiperekstensi
|
Membawa permukaan tangan dorsal ke belakang sejauh
mungkin,
|
rentang 89-90°
|
|
Abduksi
|
Menekuk pergelangan tangan miring ke ibu jari,
|
rentang 30°
|
|
Adduksi
|
Menekuk pergelangan tangan miring ke arah lima jari,
|
rentang 30-50°
|
6.
Jari- jari
tangan
|
Gerakan
|
Penjelasan
|
Rentang
|
|
Fleksi
|
Membuat genggaman,
|
rentang 90°
|
|
Ekstensi
|
Meluruskan jari-jari tangan,
|
rentang 90°
|
|
Hiperekstensi
|
Menggerakan jari-jari tangan ke belakang sejauh
mungkin,
|
rentang 30-60°
|
|
Abduksi
|
Mereggangkan jari-jari tangan yang satu dengan yang
lain,
|
rentang 30°
|
|
Adduksi
|
Merapatkan kembali jari-jari tangan,
|
rentang 30°
|
7.
Ibu jari
|
Gerakan
|
Penjelasan
|
Rentang
|
|
Fleksi
|
Mengerakan ibu jari menyilang permukaan telapak tangan,
|
rentang 90°
|
|
Ekstensi
|
menggerakan ibu jari lurus menjauh dari tangan,
|
rentang 90°
|
|
Abduksi
|
Menjauhkan ibu jari ke samping,
|
rentang 30°
|
|
Adduksi
|
Mengerakan ibu jari ke depan tangan,
|
rentang 30°
|
|
Oposisi
|
Menyentuhkan ibu jari ke setiap jari-jari tangan pada
tangan yang sama.
|
-
|
8.
Pinggul
|
Gerakan
|
Penjelasan
|
Rentang
|
|
Fleksi
|
Mengerakan tungkai ke depan dan atas,
|
rentang 90-120°
|
|
Ekstensi
|
Menggerakan kembali ke samping tungkai yang lain,
|
rentang 90-120°
|
|
Hiperekstensi
|
Mengerakan tungkai ke belakang tubuh,
|
rentang 30-50°
|
|
Abduksi
|
Menggerakan tungkai ke samping menjauhi tubuh,
|
rentang 30-50°
|
|
Adduksi
|
Mengerakan tungkai kembali ke posisi media dan melebihi
jika mungkin,
|
rentang 30-50°
|
|
Rotasi dalam
|
Memutar kaki dan tungkai ke arah tungkai lain,
|
rentang 90°
|
|
Rotasi luar
|
Memutar kaki dan tungkai menjauhi tungkai lain,
|
rentang 90°
|
|
Sirkumduksi
|
Menggerakan tungkai melingkar
|
-
|
9.
Lutut
|
Gerakan
|
Penjelasan
|
Rentang
|
|
Fleksi
|
Mengerakan tumit ke arah belakang paha,
|
rentang 120-130°
|
|
Ekstensi
|
Mengembalikan tungkai kelantai,
|
rentang 120-130°
|
10. Mata kaki
|
Gerakan
|
Penjelasan
|
Rentang
|
|
Dorsifleksi
|
Menggerakan kaki sehingga jari-jari kaki menekuk ke
atas,
|
rentang 20-30°
|
|
Plantarfleksi
|
Menggerakan kaki sehingga jari-jari kaki menekuk ke
bawah,
|
rentang 45-50°
|
11. Kaki
|
Gerakan
|
Penjelasan
|
Rentang
|
|
Inversi
|
Memutar telapak kaki ke samping dalam,
|
rentang 10°
|
|
Eversi
|
Memutar telapak kaki ke samping luar,
|
rentang 10°
|
12. Jari-Jari Kaki
|
Gerakan
|
Penjelasan
|
Rentang
|
|
Fleksi
|
Menekukkan jari-jari kaki ke bawah,
|
rentang 30-60°
|
|
Ekstensi
|
Meluruskan jari-jari kaki,
|
rentang 30-60°
|
|
Abduksi
|
Menggerakan jari-jari kaki satu dengan yang lain,
|
rentang 15°
|
|
Adduksi
|
Merapatkan kembali bersama-sama,
|
rentang 15°
|
C. Konsep Dasar
Mobilisasi
1. Pengertian
Mobilisasi
atau kemampuan seseorang untuk bergerak bebas merupakan salah satu kebutuhan
dasar manusia yang harus terpenuhi. Immobilisasi adalah suatu keadaan di mana
individu mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan gerak fisik. Mobilisasi
dan immobilisasi berada pada suatu rentang. Immobilisasi dapat berbentuk tirah
baring yang bertujuan mengurangi aktivitas fisik dan kebutuhan oksigen tubuh,
mengurangi nyeri, dan untuk mengembalikan kekuatan. Individu normal yang
mengalami tirah baring akan kehilangan kekuatan otot rata-rata 3% sehari (atropi
disuse). Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi
sistem otot, skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. (Perry
& Potter, 2005)
2. Tujuan Mobilisasi
Tujuan
mobilisasi adalah memenuhi kebutuhan dasar (termasuk melakukan aktifitas hidup
sehari-hari dan aktifitas rekreasi), mempertahankan diri (melindungi diri dari
trauma), mempertahankan konsep diri, mengekspresikan emosi dengan gerakan
tangan non verbal. (Perry & Potter, 2005)
3. Faktor
yang mempengaruhi mobilisasi:
a. Sistem
neuromuscular
b. Gaya hidup
c. Ketidakmampuan
d. Tingkat energi
e.
Tingkat perkembangan
1)
Bayi:
sistem muskuloskeletal bayi bersifat fleksibel. Ekstremitas lentur dan
persendian memiliki ROM lengkap. Posturnya kaku karena kepala dan tubuh bagian
atas dibawa ke depan dan tidak seimbang sehingga mudah terjatuh.
2)
Batita:
kekakuan postur tampak berkurang, garis pada tulang belakang servikal dan
lumbal lebih nyata.
3)
Balita
dan anak sekolah: tulang-tulang panjang pada lengan dan tungkai tumbuh. Otot,
ligamen, dan tendon menjadi lebih kuat, berakibat pada perkembangan postur dan
peningkatan kekuatan otot. Koordinasi yang lebih baik memungkinkan anak
melakukan tugas-tugas yang membutuhkan keterampilan motorik yang baik.
4)
Remaja:
remaja putri biasanya tumbuh dan berkembang lebih dulu dibanding yang
laki-laki. Pinggul membesar, lemak disimpan di lengan atas, paha, dan bokong.
Perubahan laki-laki pada bentuk biasanya menghasilkan pertumbuhan tulang
panjang dan meningkatnya massa otot. Tungkai menjadi lebih panjang dan pinggul
menjadi lebih sempit. Perkembangan otot meningkat di dada, lengan, bahu, dan
tungkai atas.
5)
Dewasa:
postur dan kesegarisan tubuh lebih baik. Perubahan normal pada tubuh dan
kesegarisan tubuh pada orang dewasa terjadi terutama pada wanita hamil.
Perubahan ini akibat dari respon adaptif tubuh terhadap penambahan berat dan
pertumbuhan fetus. Pusat gravitasi berpindah ke bagian depan. Wanita hamil
bersandar ke belakang dan agak berpunggung lengkung. Dia biasanya mengeluh
sakit punggung.
6)
Lansia:
kehilangan progresif pada Massa tulang total terjadi pada orangtua.
4. Respon
dari perubahan mobilisasi,
a. Respon fisiologis
1)
Muskuloskeletal
seperti kehilangan daya tahan, penurunan Massa otot, atropi dan abnormalnya
sendi (kontraktur) dan gangguan metabolisme kalsium.
2)
Kardiovaskuler seperti hipotensi ortostatik, peningkatan
beban kerja jantung, dan pembentukan thrombus.
3)
Pernafasan
seperti atelektasis dan pneumonia hipostatik.
4)
Metabolisme
dan nutrisi antara lain laju metabolic; metabolisme karbohidrat, lemak dan
protein; ketidakseimbangan cairan dan elektrolit; ketidakseimbangan kalsium;
dan gangguan pencernaan (seperti konstipasi).
5)
Eliminasi
urin seperti stasis urin meningkatkan risiko infeksi saluran perkemihan dan
batu ginjal.
6)
Integumen
seperti ulkus dekubitus adalah akibat iskhemia dan anoksia jaringan.
7)
Neurosensori:
sensori deprivation
b. Respon
psikososial dari antara lain meningkatkan respon emosional, intelektual,
sensori, dan sosiokultural.Perubahan emosional yang paling umum adalah depresi,
perubahan perilaku, perubahan dalam siklus tidur-bangun, dan gangguan koping.
E.
Konsep Dasar Osteomalasia
1. Pengertian Osteomalasia
Osteomalasia
adalah penyakit metabolisme tulang yang dikarakteristikkan oleh kurangnya
mineral dari tulang (menyerupai penyakit yang menyerang anak-anak yang disebut
rickets) pada orang dewasa, osteomalasia berlangsung kronis dan terjadi deformitas
skeletal, terjadi tidak separah dengan yang menyerang anak-anak karena pada
orang dewasa pertumbuhan tulang sudah lengkap (komplit). (Smeltzer. 2001: 2339)
Osteomalasia
adalah penyakit pada orang dewasa yang ditandai oleh gagalnya pendepositan
kalsium kedalam tulang yang baru tumbuh. Istilah lain dari osteomalasia adalah”soft
bone” atau tulang lunak. Penyakit ini mirip dengan rakitis, hanya saja pada
penyakit ini tidak ditemukan kelainan pada lempeng epifisis (tempat pertumbuhan
tulang pada anak) karena pada orang dewasa sudah tidak lagi dijumpai lempeng
epifisis
Osteomalasia
ialah perubahan patologik berupa hilangnya mineralisasi tulang yang disebabkan
berkurangnya kadar kalsium fosfat sampai tingkat di bawah kadar yang diperlukan
untuk mineralisasi matriks tulang normal, hasil akhirnya ialah rasio antara
mineral tulang dengan matriks tulang berkurang.
Osteomalasia adalah penyakit
metabolisme tulang yang ditandai dengan tidak memadainya mineralisasi tulang.
Pada orang dewasa, osteomalasia bersifat kronis dan deformitas skeletalnya
tidak seberat pada anak karena pertumbuhan skeletal telah selesai.pada pasien
ini, sejumlah besar osteosid atau remodelling tulang baru tidak mengalami
kalsifikasi. (Suratun,Heriyati,Santa manurung,Een raenah. 2008)
2. Etiologi Osteomalasia
Penyebabnya
ditandai dengan keadaan kekurangan vitamin D (calcitrol), dimana terjadi
peningkatan absorbsi kalsium dari sistem pencernaan dan penyediaan mineral dari
tulang. penyediaan calsium dan phosfat dalam cairan eksta seluler lambat. Tanpa
adekuatnya vitamin D, kalsium dan fosfat tidak akan terjadi di tempat
pembentukan kalsium dalam tulang.
Ada beberapa
faktor yang menyebabkan mengalami osteomalasia yang menyerang pada anak yaitu:
a.
Anak kekurangan
kalsium dan vitamin D. Anak yang kekurangan kalsium akan mengalami gangguan
pada proses mineralisasi. Demikian juga apabila ia kekurangan vitamin D. Di
dalam tubuh vitamin D berfungsi membantu penyerapan kalsium di dalam tubuh.
Jika kedua unsur ini tidak terpenuhi makan tulang-tulang si kecil menjadi lunak
dan mudah patah. Proses mineralisasi adalah proses proses terakhir pembentukan
tulang. Jika kebutuhan kalsium anak tercukupi maka otomatis proses mineralisasi
dalam tubuhnya akan berlangsung dengan baik.
b.
Anak menderita
gangguan hati seperti sirosis. Hal ini karena organ hatinya tak mampu memroses
vitamin D sehingga fase mineralisasi tidak terjadi.
c.
Adanya gangguan
fungsi ginjal sehingga proses ekskresi/pembuangan kalsium akan meningkat.
Dengan begitu proses mineralisasi akan terhambat.
d.
Pemakaian obat
dalam jangka waktu panjang. Pada kasus tertentu, efek pemakaian obat seperti
streroid dalam jangka waktu yang panjang rentan terhadap penyakit ini.
Penyebab utama osteomalasia yang terjadi setelah
masa anak-anak ialah :
a.
Menurunnya
penyerapan vitamin D akibat penyakit bilier, penyakit mukosa usus halus
proksimal dan penyakit ileum.
b.
Peningkatan
katabolisme vitamin D akibat obat yang me- nyebabkan peningkatan kerja
enzim-enzim oksidase hati.
c.
Gangguan tubulus
renalis yang disertai terbuangnya fosfat (acquired), renal tubular acidosis
yang disertai disproteinemia kronik
3. Manifestasi
klinik
a. Nyeri tulang
b. Deformitas mungkin timbul pada punggung dan panggul,
tungkai, iga, dan adanya daerah-daerah dimana terdapat pseudofraktur
c. Kelemahan otot bila kalsium serum sangat rendah,
tetapi mungkin jarang terjadi
Umumnya gejala yang memperberat dari osteomalasia adalah nyeri tulang dan kelemahan. Sebagai akibat dari defisiensi kalsium, biasanya terdapat kelemahan otot, pasien kemudian nampak terhuyung-huyung atau cara berjalan loyo/lemah. Kemajuan penyakit, kaki terjadi bengkok (karena tinggi badan dan kerapuhan tulang), vertebra menjadi tertekan, pemendekan batang tubuh pasien dan kelainan bentuk thoraks (kifosis).
Umumnya gejala yang memperberat dari osteomalasia adalah nyeri tulang dan kelemahan. Sebagai akibat dari defisiensi kalsium, biasanya terdapat kelemahan otot, pasien kemudian nampak terhuyung-huyung atau cara berjalan loyo/lemah. Kemajuan penyakit, kaki terjadi bengkok (karena tinggi badan dan kerapuhan tulang), vertebra menjadi tertekan, pemendekan batang tubuh pasien dan kelainan bentuk thoraks (kifosis).
4. Patofisiologi
Ada berbagai macam penyebab dari osteomalasia yang
umumnya menyebabkan gangguan metabolisme mineral. Faktor yang berbahaya untuk
perkembangan osteomalasia diantaranya kesalahan diet, malabsorbsi, gastrectomy,
gagal ginjal kronik, terapi anticonvulsan jangka lama (phenyton, phenobarbital)
dan insufisiensi vitamin D (diet, sinar matahari). Tipe malnutrisi (defisiensi
vitamin D sering digolongkan dalam hal kekurangan calsium) terutama gangguan
fungsi menuju kerusakan, tetapi faktor makanan dan kurangnya pengetahuan
tentang nutrisi yang juga dapat menjadi faktor pencetus hal itu terjadi dengan
frekuensi tersering dimana kandungan vitamin D dalam makanan kurang dan adanya
kesalahan diet serta kurangnya sinar matahari.
Osteomalasia kemungkinan terjadi sebagai akibat dari
kegagalan dari absorbsi calsium atau kekurangan calsium dari tubuh. Gangguan
gastrointestinal dimana kurangnya absorbsi lemak menyebabkan osteomalasia.
Kekurangan lain selain vitamin D (semua vitamin yang larut dalam lemak) dan
kalsium. Ekskresi yang paling terakhir terdapat dalam faeces bercampur dengan
asam lemak (fatty acid). Sebagai contoh dapat terjadi gangguan diantaranya
celiac disease, obstruksi sistem pencernaan kronik, pankreatitis kronis dan
reseksi perut yang kecil. Lagi pula penyakit hati dan ginjal dapat menyebabkan
kekurangan vitamin D, karenanya organ-organ tersebut mengubah vitamin D ke
dalam untuk aktif. Terakhir, hyperparatiroid menunjang terjadinya kekurangan
pembentukan calsium, dengan demikian osteomalasia menyebabkan kenaikan ekskresi
fosfat dalam urine.
Umumnya gejala yang memperberat dari osteomalasia adalah :
a.
Nyeri tulang dan kelemahan.
b. Sebagai akibat dari defisiensi kalsium, biasanya terdapat kelemahan otot,
c.
Pasien kemudian nampak terhuyung-huyung atau cara berjalan loyo/lemah..
d. Nyeri tulang yang dirasakan menyebar, terutama pada daerah pinggang dan
paha
e.
Kaki terjadi bengkok (karena tinggi badan dan kerapuhan tulang),
f.
Vertebra menjadi tertekan,
g. Pemendekan batang tubuh pasien dan kelainan bentuk thoraks (kifosis).
h. Penurunan berat badan
i.
Anoreksia
Pada anak – anak
a. Munculnya
tonjolan tulang pada sambungan antara tulang iga dan tulang rawan di bagian
dada.
b. Tulang terasa
lunak dan jika disenduh akan merasakan nyeri mengigit
c. Sakit pada
seluruh tulang tubuhnya
d. Mengalami
gangguan motorik karena kurang beraktivitas dan menjadi pasif.
e. Merasakan sakit
saat duduk & mengalami kesulitan bangun dari posisi duduk ke posisi
berdiri.
f. Mudah Sekali mengalami patah tulang.
Terutama di
bagian tulang panjang seperti tulang lengan atau tulang kaki.
5. Prognosis
Kekurangan kalsium dan vitamin D terutama di masa
kecil dan remaja saat di mana terjadi pembentukan massa tulang yang maksimal,
merupakan penyebab utama osteomalasia Konsumsi kalsium yang rendah atau
menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium yang umumnya terjadi pada
dewasa , dapat menyebabkan osteomalasia ,selain itu ganguan pada sindroma
malabsorbsi usus ,penyakit hati ,gagal ginjal kronis dapat juga menyebab
terjadinya osteomalasia Terjadinya osteomalasia merupakan rangkaian awal
terjadinya osteoporosis .pada saat sekarang ini angka kejadian tersebut sangat
meningkat tajam baik pada anak – anak ,dewasa atau pun orang tua. Berdasarkan
hasil penelitian University of Otago, Selandia Baru, bekerja sama dengan Seameo
Tropmed RCCN, Universitas Indonesia dan Universitas Putra Malaysia, yang
dipublikasikan European Journal of Clinical Nutrition tahun 2007, perempuan Indonesia
hanya mengonsumsi 270 miligram kalsium per hari.
Hal tersebut berarti asupan perempuan Indonesia
bahkan kurang dari 50% rekomendasi kalsium harian yang dibutuhkan untuk menjaga
kekuatan dan kesehatan tulang. Asupan yang kurang dari 50% rekomendasi harian
tersebut bahkan juga terjadi di 9 negara Asia, seperti terlihat pada penelitian
yang dilakukan Lyengar dan tim pada 2004. Kebutuhan kalsium yang dianjurkan per
harinya adalah 1.000-1.200 mg. Data kepadatan tulang yang dianalisa oleh Pusat
Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Gizi Bogor pada 2005, ditemukan bahwa
2 dari 5 orang Indonesia berisiko menderita kerapuhan tulang
6. Evaluasi diagnostic
Pada foto x – ray umumnya nampak kekurangan mineral
dari tulang sangat nyata. Berdasar dari vertebra mungkin menunjukkan fraktur
kompressi dengan nyeri pada ujung vertebra. Pemeriksaan laboratorium
menunjukkan lambatnya rata-rata serum kalsium dan jumlah fosfor serta kurangnya
kenaikan alkaline phosfat. Ekskresi urine calsium dan creatinin lambat.
7. Penatalaksanaan
1.
Medik
Jika penyebabnya kekurangan vitamin D, maka dapat disuntikkan
vitamin D 200.000 IU per minggu selama 4-6 minggu, yang kemudian dilanjutkan
dengan 1.600 IU setiap hari atau 200.000 IU setiap 4-6 bulan. Jika terjadi
kekurangan fosfat (hipofosfatemia), maka dapat diobati dengan mengonsumsi
1,25-dihydroxy vitamin D.
2.
Penatalaksanan
non medik
Jika kekurangan kalsium maka yang harus dilakukan adalah
memperbanyak konsumsi unsur kalsium. Agar sel osteoblas (pembentuk tulang) bisa
bekerja lebih keras lagi. Selain mengkonsumsi sayur-sayuran, buah, tahu, tempe,
ikan teri, daging, yogurt. Konsumsi suplemen kalsium sangatlah disarankan.Jika
kekurangan vitamin D, sangat dianjurkan untuk memperbanyak konsumsi makanan
seperti ikan salmon, kuning telur, minyak ikan, dan susu. Untuk membantu
pembentukan vitamin D dalam tubuh cobalah sering berjemur di bawah sinar
matahari pagi antara pukul 7 - 9 pagi dan sore pada pukul 16 -¬ 17.
BAB
III
Pembahasan
Pengaruh Latihan
Rentang Gerak Sendi Terhadap mobilisasi pada pasien osteomalasia
Hasil penelitian ini sesuai dengan
teori Suddarth & Brunner (2002) bahwa latihan rentang gerak sendi di
lakukan untuk mengurangi efek imobilisasi pada pasien melalui latihan isometrik
otot-otot di bagian yang di imobilisasi latihan kuadrisep dan latihan gluteal
dapat membantu mempertahankan kelompok otot besar yang penting untuk berjalan.
Menurut Suratun (2008) bahwa rentang
gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian
dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif sedangkan latihan ROM aktif
untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan
otot-ototnya secara aktif .
Berdasarkan hasil penelitian ini
peneliti berpendapat bahwa ada perbedaan lingkup gerak sendi antara pasien
kelompok ROM aktif dan kelompok ROM pasif. Hal ini disebabkan karena pada
pasien kelompok latihan ROM aktif tidak melakukan latihan rentang gerak sendi
dengan baik karena kurang motivasi dengan alasan takut nyeri sehingga
menyebabkan masih terbatasnya pergerakan sendi pasien. Sedangkan pada pasien
yang dilakukan rentang gerak pasif maka pasien akan diupayakan untuk bergerak
(mengegerakan kaki pasien) sehingga meningkatkan aliran darah ke ektremitas.
Kontraksi otot kaki bagian bawah akan meningkatkan aliran balik vena sehingga
mempersulit terbentuknya bekuan darah.
Latihan ROM aktif dan pasif dapat
meningkatkan mobilitas sendi, tulang dan otot. Seperi yang telah disebutkan di
atas gejala yang memperberat dari osteomalasia adalah :
a.
Nyeri tulang
dan kelemahan.
b.
Sebagai akibat
dari defisiensi kalsium, biasanya terdapat kelemahan otot.
c.
Pasien kemudian
nampak terhuyung-huyung atau cara berjalan loyo/lemah.
d.
Nyeri tulang
yang dirasakan menyebar, terutama pada daerah pinggang dan paha.
e.
Kaki terjadi
bengkok (karena tinggi badan dan kerapuhan tulang)
Apabila hal tersebut tidak diatasi
dengan segera maka akan semakin memperburuk gejala yang ada. Melakukan latihan
sederhana seperti ROM aktif maupun ROM pasif dapat meningkatkan mobilitas
sendi, tulang dan otot pada penderita osteomalasia. Apabila
dilakukan secara rutin dan teratur dapat mencegah terjadinya berbagai
komplikasi.
Melakukan ROM aktif di bawah sinar
matahari akan sangat membantu pada penderita osteomalasia. Selain untuk
meningkatkan mobilitas sendi, tulang dan otot, sinar matahari juga dapat
membantu dalam pembentukan Vitamin D yang sangat dibutuhkan oleh tulang.
Daftar Pustaka
Carpenito, Lynda
juall. 2001. Dokumentasi Asuhan Keperawatan Edisi 8. Jakarta: EGC.
Doenges, E,
Marilyn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan
keperawatan pasien. Edisi. Jakarta: EGC.
Ganong, W.F.
1999. Fisiologi kedokteran. Jakarta : EGC.
Price, Sylvia
& Loiraine M. Wilson. 1998. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit.
Edisi 4. Jakarta : EGC.
Smeltzer &
Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Vol III. Edisi 8. Jakarta
: EGC.
Suratun,
Heryati, Santa manurung, Een raenah. 2008. Klien gangguan sistem
musculuskeletal. Jakarta: EGC.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar